Sabtu, 15 September 2012

Menyukai si(apa) yang memang pantas untuk disukai


Aku tak pernah menyukai minuman susu. Entah dalam rasa apapun, aku tak suka. Jangan tanyakan kenapa, karena akupun tak tau alasannya. Toh bukannya dalam urusan suka atau tidak suka, tidak selalu memerlukan alasan bukan??? Mama selalu cerita bahwa dari ketiga anaknya aku yang paling rewel kalau disuruh minum susu saat balita dulu. Lagi-lagi jangan tanyakan betapa kuwalahannya beliau menghadapiku, pusing tujung keliling takut-takut anaknya itu kekurangan nutrisi.

Lalu aku masuk IPB departemen Biokimia. Bisa dikatakan bahwa jurusanku ini menghabiskan banyak waktu di laboratorium, berteman akrab dengan larutan-larutan kimia ini dan itu. Dosen selalu menghimbau agar tidak lupa meminum susu, untuk menetralisir kalau-kalau ada zat kimia yang masuk ke dalam tubuh. Mau gak mau ya aku harus  minum, takut juga kalau bandel. Awal- awal rasanya tersiksa banget, bagaimana mungkin memakan/meminum sesuatu yang tidak kita sukai itu bakal menyenangkan. Aku ceritakan itu semua pada mama. Otomatis mama jadi over banget nelfon cuma buat ngingetin minum susu. Aku bilang “gak suka mamaaaaaa”…lalu satu hal yang membuatku paham saat mama bilang kenapa tidak bisa menyukai Sesutu yang jelas-jelas baik bagimu, kenapa kamu malah suka jajan es lilin, minuman-minuman bersoda, yang jelas-jelas gak memberikan manfaat apa-apa, bahkan bisa jadi merugikan. Coba untuk berfikir jernih. Coba untuk menyukai apa yang memang pantas untuk disukai. Well, kemudian aku belajar menyukai susu. Akhirnya aku jadi suka, sukaaaaaa banget. Semudah itu membolak-balik perasaan diri sendiri jika memang mau dipikirkan secara baik-baik. Jadi, bullshit banget kalau ada yang bilang dia segala-galanya buat gue, gak akan pernah bisa gue lupain dia…blablabla…

Hmmm…menyukai apa yang memang pantas untuk disukai.  Aku setuju. Sampai detik ini aku masih tidak bisa memahami pikiran beberapa kawanku “ pacar gue sering banget nyeleweng, tapi namanya cinta gimana dong???selalu aja gue maafin…” atau “ dia gak pernah perhatian sama gue, sedih banget…” “lalu kenapa kamu suka dia???” tanyaku polos.. “namanya cinta Ndy…gimana lagi” atau mega adikku, sering aku marah padanya “ mega kenapa sering banget sih beli jajanan itu? Kan di reportase investigasi makanan itu gak sehat, banyak pengawetnya…” dia cuma jawab “ iya mbak…tauuu…namanya suka mau gimana lagi”. Aku tak bisa menyalahkan, memang terkadang cinta mengalahkan logika.

Tapi kita bisa jika berfikir bisa bukan??? Kita akan bisa jika kita mau  belajar bukan??? Menimbang-nimbang apakah yang kita benci memang pantas untuk dibenci??? Apakah yang kita sukai memang berhak untuk disukai???
Hmmm…semoga kita selalu belajar dari waktu kewaktu, agar menjadi manusia yang lebih baik.

insyaallah.

Senin, 13 Agustus 2012

[mungkin] Belum Menyadari, Terlalu Paranoid [mungkin]


Sekarang hari selasa, hari kedua liburan bagi anak-anak sekolah menjelang lebaran. Tidak berlaku bagiku tentunya, karena aku telah berlibur hampir satu bulan, liburan semester. Sabtu kemarin-hari terakhir berangkat sekolah, seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah rapi ,mengenakan rok panjang dan kerudung bergo, siap mengantar rachma-anggota keluarga kami yang termuda, untuk berangkat sekolah. “ayo dek..kita berangkat!!!” tapi tidak seperti biasanya, rachma diam, serius ingin mengatakan sesuatu “mbak, boleh gak rachma berangkat sendiri, jangan diantar lagi...” ucapnya ragu-ragu. Aku langsung saja ingin melarang “Tapi dek…” , kata-kataku langsung dipotong oleh mama “iya boleh, asal hati-hati..” aku langsung saja mengomel “ mama kok ngijinin sih??? Ntar kalau ada apa-apa gimana??? Kalau jalannya terlalu ke tengah gimana??? Kalau ada motor atau mobil yang ngebut gimana??? Kalau di sekolah ada yang jahat (agak lebay untuk menyebut anak kelas satu JAHAT,hehe) gimana???"   Mama Cuma senyum “ plis deh mbak, rachama udah kelas satu, bukan anak TK lagi, lagian sekolahnya juga Cuma lewatin beberapa rumah aja, bukan jalan besar lagi. Masalah teman-temannya yang jahat, itu gak mungkin, yang sekolah di situ kan hampir 90% teman TK nya dulu…belajar mandiri juga”.

Astaghfirullah, apakah saya terlalu khawatir  tuhan??? Saya jadi ingat, beberapa hari yang lalu,Mega-adik pertama saya, tidak kunjung pulang dari tempat bimbingan belajarnya, padahal semestinya sejak satu jam yang lalu dia sudah berada di rumah.  Saya menelfonnya beberapa kali dan tidak diangkat. Panik tingkat dewa. Harus gimana ini??? Menyusulnya kah??? Tapi siapa yang akan menjaga rumah??? Menjaga rachma??? Kebetulan hari itu kedua orang tua kami sedang ada urusan di luar. Kalang kabut. Syukurlah 15 menit kemudian dia pulang. Serentetan pertanyaan aku ajukan “ dari mana saja? Kenapa telat?harunya dari satu jam yang lalu udah pulang kan? Kenapa mbak terlfon gak diangkat? Apa gunanya hp? Bla..bla..bla.  Sambil tertawa dia menjawab“ habis bubar les ngobro-ngobrol dulu sama teman mbak, sekalian nunggu maghrib juga, mega kan gak bawa hp, ketinggalan. Lagian mega kan telat gak lebih dari 2 jam. Mega kan udah gede mbak, bukan anak bayi lagi, kebiasaah deh

Ya Tuhan, benar memang, mereka bukan anak balita lagi. Mega sudah kelas 3 smp (15 tahun) dan rachma kelas 1 sd (hampir 7 tahun). Inget-inget waktu aku umur 7 tahun, aku udah ngebolang kemana-mana. Berangkat sekolah sendirian, padahal jarak dari rumah ke sekolahku, hampir 10 kali lipat dari jarak rumah ke sekolah rachma sekarang. Bubar sekolah langsung main ke sungai, melompat dari satu batu besar ke batu lainnya, lalu melompat ke dalam sungai, kemudian nyari capung, nyari ikan-ikan kecil yang padahal kalau udah di dapat langsung dibuang lagi, lupa ganti baju, lupa makan siang, main terus sampai menjelang maghrib dengan baju basah dan dekil. Atau kalau gak ke sungai, main sepeda di pinggir jalan raya, ikut mengejar layangan yang putus, apa saja, main terus sepuasnya. Mama benar-benar kuwalahan menghadapi aku. Tapi toh mama percaya bahwa anaknya ini bisa jaga diri. Sementara rachma ??? aku melarangnya memakai lotion anti nyamuk sendiri, selalu aku pakaikan, takut tertelan dan mengenai mata. Selalu aku antar jika dia ingin main ke salah satu teman sekelasnya, padahal cuma melewatin 2 atau 3 rumah saja. Melarangnya ikut-ikutan membantuku saat mencuci piring, takut tangannya bermasalah dengan sabun pencuci, melarangnya bermain kejar-kejaran karena aku terlalu takut dia jatuh kemudian berdarah. Melarangnya main di pinggir jalan takut terkena polusi. Aku sungguh lupa, atau belum menyadari , bahwa dia bukan lagi anak kecil, yang paling suka aku ayun setidaknya 2 jam kalau dia mau tidur, bukan lagi anak kecil yang senangnya bukan main saat aku gendong.

 Dan saat usiaku sama seperti mega-15 tahun, aku sering sekali main dengan teman-temanku sampai lupa waktu, sampai isya bahkan. AKu lupa, atau belum menyadari, terlalu paranoid mungkin, lupa dia bukan lagi anak kecil yang selalu aku tuntun saat pulang mengajai dari mesjid, bukan lagi anak kecil yang paling senang saat aku belikan bando.
Terlalu paranoid kah??? Terlalu protektif kah??? Entahlah, satu hal yang jelas, aku menyayangi mereka, terlalu sayang sampai-sampai aku tidak menyadari sikapku yang malah jatuhnya membatasi ruang gerak mereka.

Next time aku akan lebih baik, insyaAllah =)



Analogi Cinta dengan Sarung

Cinta dan Sarung, dua hal yang jelas-jelas beda. Cinta merupakan  hal yang abstrak, gak setiap orang  akan  sama penggambarannya tentang cinta, ada yang bilang cinta itu manis banget , sampai-sampai dulu ada yang pernah bilang, kaya gini kira-kira bunyinya “  jatuh cinta itu manis banget ndy. Aku akan selalu senyum kalau lagi jatuh cinta, ngapain aja aku senyum, dan rasanya berjalan itu seperti tidak napak di tanah…” aku yang sebelumnya mendengarkan penjelasannya sambil bertopang dagu dan tersenyum, berubah jadi heran dan mengerutkan kening “ gak napak di tanah pas jalan??? Serem amat!!!”


Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa cinta itu menyakitkan. Biasanya sih yang bilang kayak gitu ya kaum-kaum yang patah hati, cintanya ditolak, cinta yang terpendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pokoknya yang gak kesampaian untuk bersatu,hehehe (sok tau banget mode.on ). Apapun itu, intinya cinta itu hal yang abstrak, setuju kan??? Nah kalau sarung, pasti definisi setiap orang gak akan jauh-jauh beda, kain yang lebarnya kira-kira satu meter, biasa digunakan kaum laki-laki untuk sholat, atau digunakan emak-emak pas nyuci baju di sungai. Kurang lebih semacam itulah.


Hari pertama ramadhan, aku berkunjung ke rumah saudara (dari ayah). Hari itu, hampir seluruh anggota keluarga berkumpul. Banyak sekali pertanyaan yang terlontar ke arahku,tetapi hari itu aku sedang tidak ingin berbasa-basi, maka aku jawab sekedarnya dan lebih banyak mendengarkan.

Salah satu sepupuku, kemudian bercerita tentang peristiwa tragis di tanah rantaunya. Salah satu rekannya di sana meminum obat nyamuk cair, berniat mengakhiri hidupnya karena patah hati mengetahui cintanya dikhianati, kekasihnya ketahuan berselingkuh dengan wanita lain. WOW..Mungkin di kota-kota besar, berita seperti itu sudah sering terdengar, tetapi tidak di daerahku. Suasana langsung ramai, semua angkat bicara. Ada yang mengutuk-ngutuki si wanita, ada yang terus menerus beristighfar sambil mengelus dada, bahkan ada yang mengeluarkan dalil tentang cinta. Sementara aku, seperti yang telah kukatakan, sedang malas sekali untuk bicara, maka aku hanya duduk elegant sambil mengerutkan kening “nekad amat!!!”

Adik nenekku (entah apa sebutannya) adalah salah satu dari kaum yang mengeluarkan dalil tentang cinta tersebut. Begini kira-kira dalilnya (aslinya dalam bahasa Cirebon) “ sungguh bodoh sekali wanita itu, seperti tidak punya akal dan agama saja. Seperti tak berilmu, berani melakukan hal yang jelas-jelas dilarang agama,hanya untuk hal sepele macam cinta. Bah, cinta itu macam sarung kesayangan, kelian mengerti? rusak atau hilang ya tinggal beli saja yang baru. Masih banyak sarung-sarung yang jauh lebih bagus diobral di luar sana. Persetan dengan masalah hati, tak bisa melupakanlah, sayang banget lah, tak bisa bergantilah. Bohong itu. Perasaan itu kita sendiri yang mengaturnya toh???” Begitulah kira-kira celotehnya, sedetik hening, sedetik kemudian ribut kembali, berebut bicara.  Aku masih enggan berkomentar, tapi aku bertanya-tanya kenapa analoginya mesti pake sarung sih??? Emangnya gak ada yang lain??? Kemudian aku melihat apa yang selalu Beliau kenakan, oooh…hehe (cukup tau)


Poin terpenting yang kudapat dari dalilnya adalah cinta itu sederhana saja. Aku jadi inget beberapa kalimat dalam Novel Kau,Aku & Sepucuk Angpau Merah- Tere Liye :  "Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai  kepala ikan. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.”

Terlepas itu benar atau tidak, tapi aku setuju bahwa cinta bukan sesuatu yang rumit, sederhana saja. Misalnya, hati kita mampu berasa sangat teramat senang walaupun cuma liat si dia dari jauh, bentar pula. Atau, kita yang berjam-jam berdiri di depan cermin buat tampil cantik pas ketemu dia, padahal ketemu cuma 2 menit buat ngumpulin tugas, lho???haha, atau ketika hati rasanya gak karu-karuan pas gak sengaja berlawan pandang. Atau berasa kesel banget sampai cakar-cakar tembok pas denger dia bicarain "wanita" lain (maaf agak lebay,hehe). Tapi intinya sederhana saja kan ?

Dan bukan serumit itu cinta hingga butuh pengorbanan, mengatakan sehidup semati, atau seperti cerita di atas, rela mati jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Jika hanya kerumitan yang kita rasakan, maka tinggalkan , itu bukan cinta, karena cinta itu sederhana, pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tidak menuntut apapun, dan keindahan yang apa adanya. Karena sesungguhnya hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, akan semakin tulus kita melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kita, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.


“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.”





Karena Allah gak Akan Tega…

Jadi ceritanya, Sabtu 2 juni 2012 pukul 10.00 WIB aku pindah kosan. Yee yee punya kosan baru yang lebih T.O.P deh, lebih luas, lebih deket, lebih nyaman insyaallah :) setelah hampir 2 minggu muter-muter sekitar kampus buat nyari kosan, dan susah banget buat nemu yang pas di hati. Beneran loh guys, susah banget nemu yang bener-bener pas, padahal banyak kost-kost-an yang kosong. Bukan karena aku yang pemilih banget, tapi gimana ya, kalau gak sreg itu nantinya gak akan betah. Sampai-sampai ortu nan jauh di sana pengen ke Bogor buat bantuin nyari, langsung cepet-cepet aku bilang jangaaaaaaan , gak tega ,hehe.

Setelah beberapa hari, hingga hampir 2 minggu gak juga nemu, aku mulai galau. Gak pengen terlalu mikirin sih sebenernya, tapi ujung-ujungnya pasti kepikiran juga. Lagi belajar, mikirin kosan, lagi di kampus mikirin kosan, sampai-sampai pas tidur mimpinya juga tentang kosan,haha. Tapi, Allah gak akan tega melihat hamba-Nya yang terus-terusan galau kaya gitu. Hingga suatu hari , kami (aku dan kawanku) nemu kosan kami yang baru itu. So sweet banget kaaaan  :)  Allah pengen liat dulu usahaku buat nyari, dan ketika aku mulai frustasi dan pasrah, dengan mudahnya allah nemuin aku dengan kosan baru itu. Mungkin kalian bakal bilang “alamak lebay banget sih, kosan doang”, tapi bagi aku, pencarian nyari kosan yang cocok di hati itu, bener-bener perjuangan banget, di tengah-tengah kesibukan jadwal kuliah dan kegiatan lain yang padet det det :D

Nah, balik lagi ke proses pindahan. Sumpah, aku baru nyadar ternyata barang-barangku itu buanyaknya minta ampun. Buku-buku, baju, pernak-pernik, hingga akhirnya menjadi 7 kardus besar. Aku memutuskan untuk membawanya sendiri, padahal, kalaupun aku minta tolong teman-temanku buat bantu pindahan, aku yakin mereka pasti mau. Tapi…aku gak mau ngerepotin mereka. Jadi, hari itu aku cuma bawa 2 kardus dulu, sisanya besok-besok aja. Yups…pagi-pagi sarapan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya, gak lupa minum segelas susu cokelat,  dengan kalkulasi perhitungan jumlah kalori yang akan dipakai lebih banyak dari biasanya buat angkat 2 kardus itu,haha. Dan… satu…dua…tiga…uuuuuhg beraaaaaat.

Gimana ini??? Ah masa mau nyerah siih, bisa…yakin bisa. Beberapa langkah masih kuat, tapi selebihnya gak bisaaaaa. Oh ya, kenapa aku gak nyewa kendaraan aja, itu karena jarak dari kosan yang lama gak jauh-jauh amat, Cuma beberapa meter aja, karena ada jalan short cut , ketimbang naik kendaraan yang justru bakal muter-muter dulu. Balik lagi,,,aku udah gak kuat, ternyata makanan  + segelas susu cokelat pas sarapan tadi itu gak ngaruh banyak buat energy ku. Akhirnya…aku duduk dulu di samping jalan (sumpah merana banget, ditambah efek sinar matahari pukul 11 siang yang nyengat banget pastinya). Tiba-tiba…
seorang laki-laki tak dikenal, sebut saja mr.x “mbak…dari tadi saya perhatikan mbak bawa-bawa kardus itu gak kuat, mau dibawa kemana??? Biar saya bantu…”
hah, aku waspada, ada orang tak dikenal mengajak bicara, lalu aku lihat jaket yang ia pakai, ada tulisan BEM KM IPB, ooh anak IPB toh, baik pastinya,hehe.
Lalu aku jawab “iya mas, mau pindahan kosan, berat banget…”
Mr.x : “ mari saya bantu…”
Aku : “gak usah mas, makasih…” ( bukan sok jual mahal, tapi karena aku paling gak suka ngerepotin orang lain)
Mr  x : “gak apa-apa…”
Aku : “gak usah mas…”

Beberapa lama kemudian….

Mr  x : “gak apa-apa mbak, saya bantu…”
Aku : “ gak usah mas, kardusnya berat banget… ‘
Beberapa…beberapa lama kemudian…
Mr x : “gak apa-apa mbak…”
Aku ; “gak usah mas,,,terima kasih, ini berat banget….”

Beberapa..beberapa…dan beberapa lama kemudian…

Mr x : (menarik nafas dan dengan ekspresi yang sangat meyakinkan) “ mbak…insyaallah saya kuat…”
Akhirnya…aku : “ oke mas…silahkan “ (sambil memberikan senyum termanis yang aku punya,hehe)
Lalu mr.x itu mengangkat kardus dengan gagahnya, kemudian jalan, dan aku jalan di belakangnya dengan hati yang tidak enak, takut merepotkan. Kemudian mr x itu berhenti dan menengok “mbak…” “iya mas kenapa, berat ya…? “ “ bukan-bukan, mbak seharusnya jalan di depan saya, saya kan tidak tahu kosan mbak…” “oh iya ya,heheheeeee “

Sepanjang perjalanan aku senyum-senyum sendiri.  Ini semua karena Allah, ini bentuk pertolongan allah. Karena memang Allah gak akan tega melihat hamba-Nya yang kesusahan toh. Percaya deh.  Lalu aku berfikir,hmmm… besok siapa lagi ya yang tiba-tiba mau nolongin???? Heheheee (ngarep :D

Selasa, 29 Mei 2012

Beda...!!!


Ceritanya, liburan seminggu kemarin aku balik ke kampung halaman, setelah didesak dari berbagai pihak untuk pulang ke rumah, “ih masa kamu gak mau balik sih ndy??? Cuma Cirebon loh, deket tau. kamu udah 5 bulan gak pulang, betah amat di bogor!!!”, atau yang ini “ kamu gak kangen apa ndy??? Pulang ayo pulaaaang”, beberapa bilang “ kalau aku saranin sih, kalau kita punya kesempatan buat balik, ya kenapa gak balik..???” , suka gak paham deh, kenapa konco-koncoku ini yang rempong ngurusin aku buat pulang, well…itu yang namanya salah satu bentuk perhatian guys ,hihihiiiii :D

Seminggu di rumah itu, total aku gak ngapa-ngapain. Gak bawa novel romantic buat dibaca, apalagi modul kuliah,haha. Terus aku memperhatikan sesuatu. Guys…ada yang beda !!!
Apa coba??? Ternyata aku beda sama sibungsu yang sekarang berumur 5 tahun itu. Eitss.. bukan pisikli yah, karena cerita tentang itu pasti bakal boring banget. Terus apa yang beda??? LIFE STYLE !!!

Aku hidup ditahun 1997 saat usiaku sama seperti si bungsu, usia 5 tahun. Saat itu mainan favoritku adalah membuat rumah-rumahan dari tanah, itu pagi hari, siangnya sehabis dhuhur kejar-kejaran naik sepeda sekitar rumah sampai magrib, pulang-pulang dalam keadaan dekil banget. Terus habis magrib, mainan petak umpet, dan aku selalu kalah. Kalau udah selesai, pulang, kemudian tidur. Dan apa mainan favorit si bungsu??? Mainan game di hape!!! Gak pagi, siang, sore, malem mau tidur, waktu main miliknya dia gunain buat main game. Canggih memang. Bayangkan, aku baru memegang hp itu sekitar kelas 1 SMA.  Gak salah dia. Saat ini memang udah gak ada lahan kosong buat mainan rumah-rumahan dari tanah, atau lapangan luas buat kejar-kejaran naik sepeda. Sekarang pemukiman padet banget. Selama aku di rumahpun, males banget buat keluar. Riweuh…

Yang aku tonton waktu usia 5 tahun juga beda dengan si bungsu. Dulu…dalam satu minggu, hanya ada 3 acara tv yang aku tonton : jin dan jun, jinny oh jinny, sama tuyul dan mbak yul ( gak ngerti kenapa acara gaib semua yang aku tonton,haha :D ). Sekarang yang bisa dia tonton adalah acara2 semacem ftv gitu, atau sinetron yang kompleks abis ceritanya, berat untuk ditonton. Makanya, mama harus ekstra jagain dia buat nonton acara tv yang bagus.

Dulu itu kalau mau makan ayam goreng semacem kfc gitu, harus 2 kali naik angkot , kira2 nempuh perjalanan 1 jam bolak-bolik. Rasanya itu sesuatu banget kalau bapak bilang “ayo besok kita ke kota, ke mall, beli cikken “ haha, dan malemnya aku gak bisa tidur buat nunggu besok. Pagi-pagi banget, ngalahin ayam jago malah, aku udah bangun, langsung mandi, langsung pake baju terbaik yang aku punya, terus pake bedak tebel, lalu duduk manis. Padahal kita baru berangkat habis duhur :D sumpah freak banget aku waktu itu, aku udah lebay ternyata dari kecil,haha (kok bangga ya??? ). Dan BEDA dengan si bungsu. Pas kemarin aku tawarin “dede…ke mall yuk” tak ada jawaban, masih sibuk dengan hp-nya “de..mau gak??? Mumpung aang (baca : mbak) ada di rumah” dia baru jawab “mau ngapain???males ah” whaaaaat?????? 

Masih banyak hal-hal BEDA antara tahun 1990-an dengan 2012 ini…Masing-masing punya dua sisi, positif dan negative, tergantung bagaimana kita melihatnya bukan???    
See you =)

Kamis, 24 Mei 2012

Karena memang Harus memilih kan???

"waaah...gak nyangka loh aku udah 3 hari ini gak makan gorengan...."  salah seorang kawan di kampus berkata demikian dengan sangat bangga sambil sumringah minta ampun :D Yaah...namanya juga cewe, rata-rata pada suka gorengan aku rasa, ditambah lagi jadwal kuliah, praktikum, sama responsi, yang padet det deet...hehe. Termasuk saya, sukaaaa banget makan gorengan, apalagi mendoan, tempe yang digoreng setengah mateng itu, uuuh enak banget pokoknya ( ups...jadi ngomongin diri sendiri kan :D ). Jadi, tiada hari tanpa makan gorengan (khususnya buat kami, aku dan kawan-kawanku di kampus). Sampai suatu hari....

"Nindy...aku mau gak makan gorengan sehariiiiii aja, bisa gak ya ndy??? ", aku malah balik nanya " Loh...kenapa emangnya gak mau makan gorengan lagi???" ( itu sungguh pertanyaan bodoh, kemana ilmu biologi yang selama ini dipelajari??? Bahwa makan makanan yang digoreng, berminyak, dan berlemak itu bisa bikin kolesterol??? #mengutuki diri sendiri ) . Terus dia jawab " iyalah ndy...tiap hari aku makan gorengan terus, kan gak bagus buat tubuh. Sehariiii aja, bisa gak yah aku coba?", "ehmmm...semua kemungkinan cuma ada sama kamu, toh emang diri kamu sendirikan yang nantinya mutusin buat makan gorengan atau gak???"........... Lalu tiga hari kemudian terjadilah percakapan seperti yang di atas tadi. Awalnya cuma sehari aja, antara yakin dan gak..eeeh malah tiga hari!!! Spektakuler. Mungkin terdengar agak lebay, tapi untuk saya pribadi itu prestasi banget. Saya beritahu ya, dia itu sukaaaaa banget banget banget sama yang namanya gorengan, kalau belum makan gorengan dia bakal uring-uringan gak jelas, ditambah lagi yang saya bilang tadi, bahwa jadwal kita yang sibuk (atau sok sibuk :D ) ngakibatin gak punya banyak waktu buat makan besar, jadi larinya ke gorengan, yang simpel, murah, dan enak,hehe

Dari situ aku belajar. Bahwa bener banget kalau the choice is yours. Hidup itu tentang pilihan, pilihan-pilihan itu ada pada kita, dan kita memang harus memilih kan??? Pengen jadi kaya apa sih kita??? Mau dibawa kemana sih hidup kita ini???
Kita bisa, kalau kita memilih untuk bisa. Orang-orang yang berkata "saya tidak bisa" itu sesungguhnya lebih ke "saya tidak ingin untuk bisa...", sekali lagi memang benar bahwa where there's a will..there's a way, ada kemauan ada jalan boyy :D
Seorang pecundang akan berkata " Ini mungkin tapi susah", dan seorang pemenang akan berkata " ini susah..tapi mungkin"

semangat dahyat :) :) :)

Pentingnya Sebuah Penghargaan

Sering banget denger temen-temen cerita “sumpah, gue ngerasa gak dihargai banget..”, gak jarang pula dosen di kelas marah kalau kita-kita dikelas rebut pas Beliau lagi nerangin :D . Hmmm, jadi aku tarik kesimpulan bahwa, setiap individu itu butuh untuk dihargai. Makanya sering banget kan ada orang yang marah sampai bilang “plis dong hargain gue…!!!’, eeh kita-kita malah jawab “lo mau dihargain berapa??? :D”

 Terus dihargai untuk apa ya???hmmm semuanya. Misalnya, kita butuh untuk dihargai atas apa yang telah kita usahakan. Loh berarti gak ikhlas dong ngerjainnya??? Ehm…ehm..ehm, aku melihat perhargaan itu berbeda dengan keihklasan. Kalau kita gak ikhlas, itu artinya kita kerja untuk mengharapkan suatu benefit, apakah itu sebuah pujian, royalty, atau naik pangkat misalnya. Urusan duniawi pokoknya mah. Penghargaan itu bukan gitu-gituan kok. Dengan kita senyum, memperhatikan, ngasih beberapa saran untuk perbaikan atas apa yang dikerjakan seseorang, kita udah ngasih penghargaan ke orang  tersebut, atau ketika pendapat kita didengar aja, gak sampai disetujui kita udah ngerasa dihargai bukan??? Guys…percaya deh , bahwa penghargaan kepada seorang individu itu penting banget.

Sering banget ada seorang anak yang pulang bawa kertas ujian, lari-lari dari sekolah ke rumah buat nunjukin kertas itu ke mamanya. “mama…mama…mama…”, “ada pa?” “ini mah ujian matematika ku dapat 7…” “yaaaah kenapa yang tiga soal ini salah??? Coba kalo bener, dapet seratus deh entar…” kenapa  sih kita lebih melihat ke 3 soal yang salah??? Kenpa sulit banget buat kita liat perjuangan anak itu untuk ngerjain 7 soal yang bener???

Kasus yang kaya gitu juga sering banget dialami temen-temenku sendiri. Oh ya,,hamper lupa, kalo penghargaan itu gak hanya kita menghargai orang lain, atau orang lain menghargai kita, tetapi juga penghargaan itu termasuk kita menghargai  usaha diri kita sendiri. Nah…kalo hasil ujian udah dibagiin , temen-temen sering baget bilang (sambil nepuk kepala) “uuuh…dasar bego banget sih gue. Kenapa coba gue gak bisa nomer yang ini???”  wuiiih nge-begoin diri sendiri, kok bisa ya??? :D

Gak tau kenapa, apa mungkin karena aku adalah orang yang bergolongan darah B, yang hasil riset jepang menjelasakan bahwa orang ber golongan darah B ini tipekel orang yang nyantai dan tenang pembawaannya. Jadi, bahkan sebelum hasil ujian itu dibagiin, atau bahkan hari terakhir ujian, sorenya aku memberikan penghargaan ke diri sendiri karena udah mau belajar , berusaha nyiapin diri sebaik mungkin buat ujian.  Jadi apa yang aku lakukan??? Aku jalan-jalan sambil wisata kuliner, jajan ini dan itu, seneng banget ;D . Pas hasilnya keluar, walau cuma dapet Sembilan misalnya, salah satu, gak pernah aku nyesel kenapa yang satu ini salah. Konyol banget kalau nyesel, hasil udah keluar mau diapain lagi, tinggal kedepannya diperbaiki dengan lebih rajin belajar dan lebih teliti aja pas ngerjain :)

Yups…pentingnya sebuah penghargaan . Gak sulit kok untuk menghargai itu, baik ke diri sendiri ataupun ke orang lain. Asal kita mau meluangkan sedikit saja waktu kita untuk berekspresi, untuk senyum, untuk menyimak, untuk bilang “hmmm” sambil ngangguk. Besar banget efek positif dari menghargai itu. Yups kawan…sederhanan saja  yang disebut menghargai :) :) :)