Minggu, 25 November 2012

Wanita Menangis adalah Anugerah :)


Hai wanita.. pernah kah kalian merasa suatu waktu rasanya ingin terus menangis karena sebuah perasaan yang ga dapat diungkapkan lewat kata-kata dan hanya bisa diungkapkan lewat air mata? aku yakin pernah.. Begitu pula aku.. banyak sekali momen yang aku lewatkan dengan air mata,, ga melulu karena sedih, bahagiapun bisa menangis.

Wanita memang diciptakan dengan semua keunikannya dan kesempurnaannya, tidak seperti laki-laki yang terlihat begitu kuat dan ga gampang meneteskan air mata. Lalu kenapa wanita diciptakan Alloh mudah meneteskan air mata? Hal ini perlu juga dipahami oleh kaum laki-laki loh.. Tangis kami bukan tak ada alasan tapi mungkin hanya kami yang mengerti , kami tak mampu untuk mengungkapkannya dalam sebuah kata ataupun kalimat.


Terkadang banyak anak yang bertanya pada ibunya ketika ibunya menangis: “kenapa ibu menangis?” tanya si anak. ” Sebab ibu adalah perempuan, nak” jawab si ibu. Si anak tetap belum memahami karena dia tak akan paham. Bertanyalah si anak pada ayahnya: ” Kenapa ibu menangis,ayah?” tanya si anak. “Ibumu memang sering menangis tanpa sebab yang jelas, banyak wanita yang sering menangis tanpa alasan” jawab sang ayah.


Si anak terus bertanya-tanya, mengapa perempuan menangis? Hingga pada suatu malam, dia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa perempuan mudah menangis?” Dalam mimpinya dia merasa seolah-olah mendengar jawapannya:


“Saat Ku ciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.


Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.


“Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali menerima cerca dari si bayi itu apabila dia telah membesar.


“Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.


“Ku berikan kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.


“Kuberikan wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam apa jua keadaan dan situasi. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak- anak yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didakap dengan lembut olehnya.


“Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sukar dan menjadi pelindung baginya.

Sebab bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak..?

“Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyedarkan bahawa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai isterinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.


“Dan akhirnya, Kuberikan wanita air mata, agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat dia gunakan bila-bila masa pun dia inginkan. Ini bukan kelemahan bagi wanita, kerana sebenarnya air mata ini adalah “air mata kehidupan.”


Air mata bukanlah satu kelemahan dari seorang wanita, Alloh memberikan air mata pada wanita agar dia lebih sempurna. Maha suci Alloh dengan segala rahmat dan berkah yang diberikan pada kita.


Jadi, para wanita.. kalau ingin menangis.. menangislah..karena itu adalah anugerah,, baik dalam sedih maupun senang.. Alhamdulillah

Minggu, 18 November 2012

Mereka dan Aku…



Dua tahun yang lalu, hari pertama aku tiba di kota hujan, saat keluargaku pamit untuk kembali ke Cirebon, perasaanku sungguh tak menentu. Ingin sekali aku menarik tangan mama, mencegahnya untuk masuk ke dalam mobil, dan berkata “Nindy ikut ya ma, Bolehkan kan ma. nindy ikut balik ke Cirebon, boleh ya ma, jangan tinggalin nindy sendiri di sini, plis…” Jangan berpikir aku lebay, karena memang seumur-umur aku belum pernah jauh-jauh dari mama. Mama segalanya untukku. Segala hal aku ceritakan pada mama. Mama seperti sahabatku sendiri. Tapi yang aku lakukan hanya diam dan menunduk, aku bahkan tak mempunyai energi untuk melambaikan tangan, atau sekedar melihat mobil yang mereka tumpangi lama-lama menghilang. Dan mereka benar-benar meninggalkanku sendiri. Yang aku lakukan setelah itu hanya berdiri di tempat, berdiri terus dan terus berdiri. Tak lama gerimispun datang, dan hujan. Air mata yang sedari tadi aku tahan tumpah, sama seperti hujan saat itu, seperti ditumpahkan dari langit. Hujan perlahan-lahan menentramkan hatiku, membuat damai. Entah kenapa, hujan selalu membuatku tenang, dan saat hujan aku selalu membuat permohonan. Saat itu aku membuat permohonan pada Zat Yang Maha Mendengar agar aku dipertemukan dengan teman-teman yang menyenangkan. Dan, seperti inilah temang-teman Biokimia, sini mendekat, akan aku ceritakan…

Hmmm..teman-teman biokimia tidak jauh beda dengan temen-teman SD, SMP, maupun SMA ku dulu. Datang ke ruang kuliah, ngobrol-ngobrol sebelum dosen datang, menyimak atau tertidur ketika dosen menjelaskan, dan mendiskusikan sesutu kalau-kalau memang ada yang perlu didiskusikan. Mereka Baik gak ya ??? Hmmm, sejauh ini gak ada yang dengan sengaja menaruh ulat bulu di tempat pensilku, atau menaruh lem tikus di tempat aku duduk, seperti yang pernah dilakukan teman SD ku dulu, hehehe. Entahlah…aku tidak  bisa memutuskan sifat seseorang yang satu ini, pun dalam konteks yang bukan individual, misalnya rata-rata dari mereka baik atau gak, aku tetap tidak bisa menilai. Kenapa? Karena sedangkal-dangkalnya hati seseorang siapa yang tahu bukan??? Hanya Allah yang tahu. Selain itu, karena mama selalu mengajariku untuk tidak menilai sesuatu sebelum aku selesai urusan dengannya, sebelum mengenal dengan baik, dan sebelum selesai mendengarkan atau selesai membaca semuanya.

Yang pasti, mereka adalah orang-orang istimewa dengan beragam pembawaan. Ada diantara mereka yang begitu ambisius, mereka adalah para pemimpi kelas kakap. Jika kalian tahu apa saja rencananya dimasa depan, kalian hanya akan mampu mengucap kata “wah….”. Ada diantara mereka yang heboh sekali, seperti memiliki energi berlebih, dan sebaliknya ada seseorang yang selalu terlihat lesu dan murung. Ada diantara mereka yang serba tahu segala hal, jangan pernah sok tahu di depannya kalau-kalau gak ingin malu. Ada yang fanatik banget mengidolakan sesuatu, dari yang berbangsa tanah air, sampai ke korea maupun jepang. Ada diantara mereka yang tenang sekali pembawaannya, dan begitu bijaksana, masalah serumit apapun yang aku hadapi, ketika selesai sharing dengannya, dia cukup tersenyum dan berkata “hmmm…tenang nindy…tenang” dan cling ajaib sekali. Seketika aku langsung menemukan titik terang dari persoalanku. Ada diantara mereka yang jago sekali berwirausaha, ada diantara mereka yang sering kai tertidur di kelas, tapi jangan ragukan kemampuanya. Begitulah, berjuta karakter.

Dan dimataku mereka kompak sekali. Dulu, masih teringat jelas di memori otakku, saat aku akan lomba membaca pusi di acara SPIRIT FMIPA, banyak dari mereka yang sibuk mengurusiku. Ada yang datang ke kosanku hanya meminjam KTM untuk mendaftarkan, ada yang sibuk mengurusi property pentas, ada yang menawariku bermacam-macam gaun untuk aku kenakan saat tampil, ada yang merias wajahku, membuat model jilbabku, ada yang walau sibuk tetap menyempatkan datang, pun yang berhalangan hadir tetapi menelpon/mengirimiku sms memberikan dukungan dan doa-doa. Sungguh, hari itu terjawab permohonan saat hujan 2 tahun yang lalu, saat aku memohon pada Allah untuk memberiku teman-teman yang menyenangkan.

Apakah aku pernah terluka dan menagis karena mereka??? Tentu saja pernah. Tak jarang aku menangis karena sikap mereka. Tapi tiap kali hatiku sakit aku langsung buru-buru menghilangkannya. Dan Hey,  bukankah kita penentu kebahagiaan kita sendiri? Seluruh air di samudera lautan tidak bisa menenggelamkan sebuah perahu kecil, jika airnya tidak masuk ke dalam perahu tersebut. Maka, seluruh kesedihan, kegundahan, beban hidup di dunia ini tidak bisa menenggelamkan hati kita, kecuali kita membiarkannya masuk ke dalam hati kita sendiri. Dan apakah mereka baik? Sungguh aku tak peduli. Tetapi satu hal yang jelas, bahwa aku tidak ingin berburuk sangka terhadap siapapun. Bukankah untuk merusak sebuah kebahagiaan, cukup hanya dengan berprasangka buruk ? aku hanya ingin menjadi orang yang baik, lalu hidup dengan baik, sesederhana itu.

Dan aku juga ingin memiliki arti bagi orang lain. Bagi mamaku, bagi bapak,  bagi kedua adikku, sahabat-sahabatku, dan teman-temanku. Untuk mereka, aku ingin seperti hujan, meski tak pernah memiliki waktu yang direncanakan untuk turun, tapi hujan akan turun dengan tetesan demi tetesan airnya yang menghujam tanah. Membasuh bumi yang kering. Kehadirannya begitu menyejukan. Membuat orang lain sejenak berhenti dari kepadatan aktivitas, dan tertawa lepas seperti anak kecil yang baru pertama kali main hujan-hujanan. Untuk mereka, aku ingin seperti hujan, yang kehadirannya damai, dan selalu dinanti. I just love my life, just the way i am :)

Nindy Lestarie, 18 november 2012


Selasa, 13 November 2012

Maaf Mama, Baru Sekarang Aku Paham :(


Suatu siang, 8 tahun yang lalu, saat aku masih menjadi anak SD, Mama memanggilku “ Nindy, ayo mendekat. Mama mau cerita…” Hati Nindy kecil saat itu ber-yaaaaaaaaah bete, pasti cerita-cerita itu lagi, ngebosenin banget deh. Tetapi tentu saja, aku memasang wajah ceria, dan dengan wajah yang antusias ala anak-anak menyimak mama bercerita. Sebenarnya sama seperti anak-anak pada umumnya, aku senang mendengarkan cerita. Bahkan sampai detik ini pun, saat aku telah menjadi seorang gadis berumur 20 tahun, aku masih suka sekali mendengarkan cerita. Bukannya aku tidak suka dengan cerita mama, tetapi yang jadi masalah adalah, mama selalu menceritakan hal yang sama, cerita-cerita saat masa kecilnya, remajanya, atau dewasanya dulu, dan diulang terus-menerus. Satu hal yang selalu mampu membuatku bertahan mendengarkan adalah wajah mama yang berseri-seri tiap kali bercerita. Selalu tersenyum ketika mengingat-ingat masa lalunya dulu. Ah…wajah yang menyenangkan. Walaupun aku gak paham benar apa sih menariknya  masa anak-anak.

Dan sekarang aku baru paham ma, setelah aku merasakannya sendiri. Di sini, di tanah rantau ini, saat pulang dari kampus dan melihat beberapa anak memakai seragam SD, bekejar-kejaran, baju dekil, dan merencanakan akan bermain apa nanti sore. Ah…mama, sekarang aku paham bagaimana perasaanmu dulu, senyum yang selalu mengembang tiap kali bercerita tentang masa kecilmu, saat itu engkau begitu rindu bukan??? Sama seperti apa yang ku rasakan saat ini  ma. Rindu, kangen masa-masa itu.  Saat buru-buru keluar pintu pas  jam sekolah usai, sekitar jam 11 siang, lari-lari sampai rumah dan melihatmu sedang memasak. Rindu kejar-kejaran naik sepeda , mainan tanah, hujan-hujanan, dan baru pulang setelah kau berteriak-teriak mengomel. Hidup sama dengan bermain, bebas, seperti tanpa beban. Saat itu indah sekali ya ma untuk dikenang. Maaf mama, baru sekarang aku paham :(


Dulu, suatu malam, 6 tahun yang lalu, saat aku masih menjadi anak SMP. Aku masih ingat ma, saat engkau diam karena kecewa padaku. Kecewa karena pulang sekolah tidak langsung ke rumah, tetapi main dulu ke mall bersama teman-temanku.Aku telah melanggar nasihatmu ma. Kau tau ma, saat engkau marah, atau bersedih ,atau kecewa padaku, aku merasa menjadi orang yang paling sedih sedunia. Malam itu kuputuskan dengan tegas untuk tidak mengulangi lagi, walaupun kesel dan bertanya-tanya mama ini kenapa sih??? Gak gaul banget deh…

Dan sekarang aku baru paham ma, betapa bahayanya anak SMP main ke pusat perbelanjaan seperti itu, setelah sekarang aku menjadi seorang kakak dan sering sekali melarang mega (adikku yang masih SMP) untuk jalan-jalan di luar kegiatan akademik. Seram membayangkan bagaimana bahayanya di jalan, tindakan kriminal yang marak terjadi, dan hang-out semacam  itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan drajat ke-gaul-an seseorang.  Maaf mama, baru sekarang aku paham :(


Dulu, suatu sore di hari Sabtu, 3 tahun yang lalu, saat aku masih menjadi anak SMA. Aku begitu marah, kesal, dan menangis, saat mama tidak mengijinkanku pergi bersama teman lelaki satu sekolahku. Ya teman, dan tidak lebih dari itu, karena mama mengharamkan untuk puteri-puterinya berpacaran. Hal itu tentu saja aku paham, karena Islam memang melarang untuk pacaran. Tapi, kalau sekedar jalan bermain??? Saat itu aku masih belum paham dengan jalan pikiran mama, apa salahnya sih kan cuma main doang??? Kita kan gak ngelakuin macem-macem??? Cuma main aja apa salahnya siiiih??? Kenapa sih gak boleh sekaliiiiiiiiiiii aja, sekali aja maaa, padahal temen-temenku sering banget jalan berdua. pertanyaan-pertannyaan itu penuh di kepalaku. Tetapi tentu saja, meski aku gak paham kenapa, meski aku gak sependapat, meski aku gak suka, aku selalu menuruti kata-kata mama. Selalu saja ada energi untuk mencegahku melawan mama. Gak bisa, gak bisa melihat orang yang paling kusayang marah dan sedih, apalagi kecewa.

Dan sekarang aku baru paham ma, itu engkau lakukan demi menjaga kehormatannku. Engkau bahkan selalu menyuruh Bapak untuk menjemputku ke sekolah kalau-kalau ada kegiatan hingga sore hari,  dan tak pernah mengijinkan lelaki manapun untuk mengantarku pulang.  Sekarang aku paham, bahwa kehormatan seorang wanita di atas segala-galanya, mutlak di atas segala-galanya, hal itu bahkan tertulis dengan jelas di kitab suci Al-Quran.  Maaf mama, baru sekarang aku benar-benar paham :(

Sabtu, 15 September 2012

Menyukai si(apa) yang memang pantas untuk disukai


Aku tak pernah menyukai minuman susu. Entah dalam rasa apapun, aku tak suka. Jangan tanyakan kenapa, karena akupun tak tau alasannya. Toh bukannya dalam urusan suka atau tidak suka, tidak selalu memerlukan alasan bukan??? Mama selalu cerita bahwa dari ketiga anaknya aku yang paling rewel kalau disuruh minum susu saat balita dulu. Lagi-lagi jangan tanyakan betapa kuwalahannya beliau menghadapiku, pusing tujung keliling takut-takut anaknya itu kekurangan nutrisi.

Lalu aku masuk IPB departemen Biokimia. Bisa dikatakan bahwa jurusanku ini menghabiskan banyak waktu di laboratorium, berteman akrab dengan larutan-larutan kimia ini dan itu. Dosen selalu menghimbau agar tidak lupa meminum susu, untuk menetralisir kalau-kalau ada zat kimia yang masuk ke dalam tubuh. Mau gak mau ya aku harus  minum, takut juga kalau bandel. Awal- awal rasanya tersiksa banget, bagaimana mungkin memakan/meminum sesuatu yang tidak kita sukai itu bakal menyenangkan. Aku ceritakan itu semua pada mama. Otomatis mama jadi over banget nelfon cuma buat ngingetin minum susu. Aku bilang “gak suka mamaaaaaa”…lalu satu hal yang membuatku paham saat mama bilang kenapa tidak bisa menyukai Sesutu yang jelas-jelas baik bagimu, kenapa kamu malah suka jajan es lilin, minuman-minuman bersoda, yang jelas-jelas gak memberikan manfaat apa-apa, bahkan bisa jadi merugikan. Coba untuk berfikir jernih. Coba untuk menyukai apa yang memang pantas untuk disukai. Well, kemudian aku belajar menyukai susu. Akhirnya aku jadi suka, sukaaaaaa banget. Semudah itu membolak-balik perasaan diri sendiri jika memang mau dipikirkan secara baik-baik. Jadi, bullshit banget kalau ada yang bilang dia segala-galanya buat gue, gak akan pernah bisa gue lupain dia…blablabla…

Hmmm…menyukai apa yang memang pantas untuk disukai.  Aku setuju. Sampai detik ini aku masih tidak bisa memahami pikiran beberapa kawanku “ pacar gue sering banget nyeleweng, tapi namanya cinta gimana dong???selalu aja gue maafin…” atau “ dia gak pernah perhatian sama gue, sedih banget…” “lalu kenapa kamu suka dia???” tanyaku polos.. “namanya cinta Ndy…gimana lagi” atau mega adikku, sering aku marah padanya “ mega kenapa sering banget sih beli jajanan itu? Kan di reportase investigasi makanan itu gak sehat, banyak pengawetnya…” dia cuma jawab “ iya mbak…tauuu…namanya suka mau gimana lagi”. Aku tak bisa menyalahkan, memang terkadang cinta mengalahkan logika.

Tapi kita bisa jika berfikir bisa bukan??? Kita akan bisa jika kita mau  belajar bukan??? Menimbang-nimbang apakah yang kita benci memang pantas untuk dibenci??? Apakah yang kita sukai memang berhak untuk disukai???
Hmmm…semoga kita selalu belajar dari waktu kewaktu, agar menjadi manusia yang lebih baik.

insyaallah.

Senin, 13 Agustus 2012

[mungkin] Belum Menyadari, Terlalu Paranoid [mungkin]


Sekarang hari selasa, hari kedua liburan bagi anak-anak sekolah menjelang lebaran. Tidak berlaku bagiku tentunya, karena aku telah berlibur hampir satu bulan, liburan semester. Sabtu kemarin-hari terakhir berangkat sekolah, seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah rapi ,mengenakan rok panjang dan kerudung bergo, siap mengantar rachma-anggota keluarga kami yang termuda, untuk berangkat sekolah. “ayo dek..kita berangkat!!!” tapi tidak seperti biasanya, rachma diam, serius ingin mengatakan sesuatu “mbak, boleh gak rachma berangkat sendiri, jangan diantar lagi...” ucapnya ragu-ragu. Aku langsung saja ingin melarang “Tapi dek…” , kata-kataku langsung dipotong oleh mama “iya boleh, asal hati-hati..” aku langsung saja mengomel “ mama kok ngijinin sih??? Ntar kalau ada apa-apa gimana??? Kalau jalannya terlalu ke tengah gimana??? Kalau ada motor atau mobil yang ngebut gimana??? Kalau di sekolah ada yang jahat (agak lebay untuk menyebut anak kelas satu JAHAT,hehe) gimana???"   Mama Cuma senyum “ plis deh mbak, rachama udah kelas satu, bukan anak TK lagi, lagian sekolahnya juga Cuma lewatin beberapa rumah aja, bukan jalan besar lagi. Masalah teman-temannya yang jahat, itu gak mungkin, yang sekolah di situ kan hampir 90% teman TK nya dulu…belajar mandiri juga”.

Astaghfirullah, apakah saya terlalu khawatir  tuhan??? Saya jadi ingat, beberapa hari yang lalu,Mega-adik pertama saya, tidak kunjung pulang dari tempat bimbingan belajarnya, padahal semestinya sejak satu jam yang lalu dia sudah berada di rumah.  Saya menelfonnya beberapa kali dan tidak diangkat. Panik tingkat dewa. Harus gimana ini??? Menyusulnya kah??? Tapi siapa yang akan menjaga rumah??? Menjaga rachma??? Kebetulan hari itu kedua orang tua kami sedang ada urusan di luar. Kalang kabut. Syukurlah 15 menit kemudian dia pulang. Serentetan pertanyaan aku ajukan “ dari mana saja? Kenapa telat?harunya dari satu jam yang lalu udah pulang kan? Kenapa mbak terlfon gak diangkat? Apa gunanya hp? Bla..bla..bla.  Sambil tertawa dia menjawab“ habis bubar les ngobro-ngobrol dulu sama teman mbak, sekalian nunggu maghrib juga, mega kan gak bawa hp, ketinggalan. Lagian mega kan telat gak lebih dari 2 jam. Mega kan udah gede mbak, bukan anak bayi lagi, kebiasaah deh

Ya Tuhan, benar memang, mereka bukan anak balita lagi. Mega sudah kelas 3 smp (15 tahun) dan rachma kelas 1 sd (hampir 7 tahun). Inget-inget waktu aku umur 7 tahun, aku udah ngebolang kemana-mana. Berangkat sekolah sendirian, padahal jarak dari rumah ke sekolahku, hampir 10 kali lipat dari jarak rumah ke sekolah rachma sekarang. Bubar sekolah langsung main ke sungai, melompat dari satu batu besar ke batu lainnya, lalu melompat ke dalam sungai, kemudian nyari capung, nyari ikan-ikan kecil yang padahal kalau udah di dapat langsung dibuang lagi, lupa ganti baju, lupa makan siang, main terus sampai menjelang maghrib dengan baju basah dan dekil. Atau kalau gak ke sungai, main sepeda di pinggir jalan raya, ikut mengejar layangan yang putus, apa saja, main terus sepuasnya. Mama benar-benar kuwalahan menghadapi aku. Tapi toh mama percaya bahwa anaknya ini bisa jaga diri. Sementara rachma ??? aku melarangnya memakai lotion anti nyamuk sendiri, selalu aku pakaikan, takut tertelan dan mengenai mata. Selalu aku antar jika dia ingin main ke salah satu teman sekelasnya, padahal cuma melewatin 2 atau 3 rumah saja. Melarangnya ikut-ikutan membantuku saat mencuci piring, takut tangannya bermasalah dengan sabun pencuci, melarangnya bermain kejar-kejaran karena aku terlalu takut dia jatuh kemudian berdarah. Melarangnya main di pinggir jalan takut terkena polusi. Aku sungguh lupa, atau belum menyadari , bahwa dia bukan lagi anak kecil, yang paling suka aku ayun setidaknya 2 jam kalau dia mau tidur, bukan lagi anak kecil yang senangnya bukan main saat aku gendong.

 Dan saat usiaku sama seperti mega-15 tahun, aku sering sekali main dengan teman-temanku sampai lupa waktu, sampai isya bahkan. AKu lupa, atau belum menyadari, terlalu paranoid mungkin, lupa dia bukan lagi anak kecil yang selalu aku tuntun saat pulang mengajai dari mesjid, bukan lagi anak kecil yang paling senang saat aku belikan bando.
Terlalu paranoid kah??? Terlalu protektif kah??? Entahlah, satu hal yang jelas, aku menyayangi mereka, terlalu sayang sampai-sampai aku tidak menyadari sikapku yang malah jatuhnya membatasi ruang gerak mereka.

Next time aku akan lebih baik, insyaAllah =)



Analogi Cinta dengan Sarung

Cinta dan Sarung, dua hal yang jelas-jelas beda. Cinta merupakan  hal yang abstrak, gak setiap orang  akan  sama penggambarannya tentang cinta, ada yang bilang cinta itu manis banget , sampai-sampai dulu ada yang pernah bilang, kaya gini kira-kira bunyinya “  jatuh cinta itu manis banget ndy. Aku akan selalu senyum kalau lagi jatuh cinta, ngapain aja aku senyum, dan rasanya berjalan itu seperti tidak napak di tanah…” aku yang sebelumnya mendengarkan penjelasannya sambil bertopang dagu dan tersenyum, berubah jadi heran dan mengerutkan kening “ gak napak di tanah pas jalan??? Serem amat!!!”


Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa cinta itu menyakitkan. Biasanya sih yang bilang kayak gitu ya kaum-kaum yang patah hati, cintanya ditolak, cinta yang terpendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pokoknya yang gak kesampaian untuk bersatu,hehehe (sok tau banget mode.on ). Apapun itu, intinya cinta itu hal yang abstrak, setuju kan??? Nah kalau sarung, pasti definisi setiap orang gak akan jauh-jauh beda, kain yang lebarnya kira-kira satu meter, biasa digunakan kaum laki-laki untuk sholat, atau digunakan emak-emak pas nyuci baju di sungai. Kurang lebih semacam itulah.


Hari pertama ramadhan, aku berkunjung ke rumah saudara (dari ayah). Hari itu, hampir seluruh anggota keluarga berkumpul. Banyak sekali pertanyaan yang terlontar ke arahku,tetapi hari itu aku sedang tidak ingin berbasa-basi, maka aku jawab sekedarnya dan lebih banyak mendengarkan.

Salah satu sepupuku, kemudian bercerita tentang peristiwa tragis di tanah rantaunya. Salah satu rekannya di sana meminum obat nyamuk cair, berniat mengakhiri hidupnya karena patah hati mengetahui cintanya dikhianati, kekasihnya ketahuan berselingkuh dengan wanita lain. WOW..Mungkin di kota-kota besar, berita seperti itu sudah sering terdengar, tetapi tidak di daerahku. Suasana langsung ramai, semua angkat bicara. Ada yang mengutuk-ngutuki si wanita, ada yang terus menerus beristighfar sambil mengelus dada, bahkan ada yang mengeluarkan dalil tentang cinta. Sementara aku, seperti yang telah kukatakan, sedang malas sekali untuk bicara, maka aku hanya duduk elegant sambil mengerutkan kening “nekad amat!!!”

Adik nenekku (entah apa sebutannya) adalah salah satu dari kaum yang mengeluarkan dalil tentang cinta tersebut. Begini kira-kira dalilnya (aslinya dalam bahasa Cirebon) “ sungguh bodoh sekali wanita itu, seperti tidak punya akal dan agama saja. Seperti tak berilmu, berani melakukan hal yang jelas-jelas dilarang agama,hanya untuk hal sepele macam cinta. Bah, cinta itu macam sarung kesayangan, kelian mengerti? rusak atau hilang ya tinggal beli saja yang baru. Masih banyak sarung-sarung yang jauh lebih bagus diobral di luar sana. Persetan dengan masalah hati, tak bisa melupakanlah, sayang banget lah, tak bisa bergantilah. Bohong itu. Perasaan itu kita sendiri yang mengaturnya toh???” Begitulah kira-kira celotehnya, sedetik hening, sedetik kemudian ribut kembali, berebut bicara.  Aku masih enggan berkomentar, tapi aku bertanya-tanya kenapa analoginya mesti pake sarung sih??? Emangnya gak ada yang lain??? Kemudian aku melihat apa yang selalu Beliau kenakan, oooh…hehe (cukup tau)


Poin terpenting yang kudapat dari dalilnya adalah cinta itu sederhana saja. Aku jadi inget beberapa kalimat dalam Novel Kau,Aku & Sepucuk Angpau Merah- Tere Liye :  "Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai  kepala ikan. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.”

Terlepas itu benar atau tidak, tapi aku setuju bahwa cinta bukan sesuatu yang rumit, sederhana saja. Misalnya, hati kita mampu berasa sangat teramat senang walaupun cuma liat si dia dari jauh, bentar pula. Atau, kita yang berjam-jam berdiri di depan cermin buat tampil cantik pas ketemu dia, padahal ketemu cuma 2 menit buat ngumpulin tugas, lho???haha, atau ketika hati rasanya gak karu-karuan pas gak sengaja berlawan pandang. Atau berasa kesel banget sampai cakar-cakar tembok pas denger dia bicarain "wanita" lain (maaf agak lebay,hehe). Tapi intinya sederhana saja kan ?

Dan bukan serumit itu cinta hingga butuh pengorbanan, mengatakan sehidup semati, atau seperti cerita di atas, rela mati jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Jika hanya kerumitan yang kita rasakan, maka tinggalkan , itu bukan cinta, karena cinta itu sederhana, pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tidak menuntut apapun, dan keindahan yang apa adanya. Karena sesungguhnya hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, akan semakin tulus kita melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kita, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.


“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.”





Karena Allah gak Akan Tega…

Jadi ceritanya, Sabtu 2 juni 2012 pukul 10.00 WIB aku pindah kosan. Yee yee punya kosan baru yang lebih T.O.P deh, lebih luas, lebih deket, lebih nyaman insyaallah :) setelah hampir 2 minggu muter-muter sekitar kampus buat nyari kosan, dan susah banget buat nemu yang pas di hati. Beneran loh guys, susah banget nemu yang bener-bener pas, padahal banyak kost-kost-an yang kosong. Bukan karena aku yang pemilih banget, tapi gimana ya, kalau gak sreg itu nantinya gak akan betah. Sampai-sampai ortu nan jauh di sana pengen ke Bogor buat bantuin nyari, langsung cepet-cepet aku bilang jangaaaaaaan , gak tega ,hehe.

Setelah beberapa hari, hingga hampir 2 minggu gak juga nemu, aku mulai galau. Gak pengen terlalu mikirin sih sebenernya, tapi ujung-ujungnya pasti kepikiran juga. Lagi belajar, mikirin kosan, lagi di kampus mikirin kosan, sampai-sampai pas tidur mimpinya juga tentang kosan,haha. Tapi, Allah gak akan tega melihat hamba-Nya yang terus-terusan galau kaya gitu. Hingga suatu hari , kami (aku dan kawanku) nemu kosan kami yang baru itu. So sweet banget kaaaan  :)  Allah pengen liat dulu usahaku buat nyari, dan ketika aku mulai frustasi dan pasrah, dengan mudahnya allah nemuin aku dengan kosan baru itu. Mungkin kalian bakal bilang “alamak lebay banget sih, kosan doang”, tapi bagi aku, pencarian nyari kosan yang cocok di hati itu, bener-bener perjuangan banget, di tengah-tengah kesibukan jadwal kuliah dan kegiatan lain yang padet det det :D

Nah, balik lagi ke proses pindahan. Sumpah, aku baru nyadar ternyata barang-barangku itu buanyaknya minta ampun. Buku-buku, baju, pernak-pernik, hingga akhirnya menjadi 7 kardus besar. Aku memutuskan untuk membawanya sendiri, padahal, kalaupun aku minta tolong teman-temanku buat bantu pindahan, aku yakin mereka pasti mau. Tapi…aku gak mau ngerepotin mereka. Jadi, hari itu aku cuma bawa 2 kardus dulu, sisanya besok-besok aja. Yups…pagi-pagi sarapan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya, gak lupa minum segelas susu cokelat,  dengan kalkulasi perhitungan jumlah kalori yang akan dipakai lebih banyak dari biasanya buat angkat 2 kardus itu,haha. Dan… satu…dua…tiga…uuuuuhg beraaaaaat.

Gimana ini??? Ah masa mau nyerah siih, bisa…yakin bisa. Beberapa langkah masih kuat, tapi selebihnya gak bisaaaaa. Oh ya, kenapa aku gak nyewa kendaraan aja, itu karena jarak dari kosan yang lama gak jauh-jauh amat, Cuma beberapa meter aja, karena ada jalan short cut , ketimbang naik kendaraan yang justru bakal muter-muter dulu. Balik lagi,,,aku udah gak kuat, ternyata makanan  + segelas susu cokelat pas sarapan tadi itu gak ngaruh banyak buat energy ku. Akhirnya…aku duduk dulu di samping jalan (sumpah merana banget, ditambah efek sinar matahari pukul 11 siang yang nyengat banget pastinya). Tiba-tiba…
seorang laki-laki tak dikenal, sebut saja mr.x “mbak…dari tadi saya perhatikan mbak bawa-bawa kardus itu gak kuat, mau dibawa kemana??? Biar saya bantu…”
hah, aku waspada, ada orang tak dikenal mengajak bicara, lalu aku lihat jaket yang ia pakai, ada tulisan BEM KM IPB, ooh anak IPB toh, baik pastinya,hehe.
Lalu aku jawab “iya mas, mau pindahan kosan, berat banget…”
Mr.x : “ mari saya bantu…”
Aku : “gak usah mas, makasih…” ( bukan sok jual mahal, tapi karena aku paling gak suka ngerepotin orang lain)
Mr  x : “gak apa-apa…”
Aku : “gak usah mas…”

Beberapa lama kemudian….

Mr  x : “gak apa-apa mbak, saya bantu…”
Aku : “ gak usah mas, kardusnya berat banget… ‘
Beberapa…beberapa lama kemudian…
Mr x : “gak apa-apa mbak…”
Aku ; “gak usah mas,,,terima kasih, ini berat banget….”

Beberapa..beberapa…dan beberapa lama kemudian…

Mr x : (menarik nafas dan dengan ekspresi yang sangat meyakinkan) “ mbak…insyaallah saya kuat…”
Akhirnya…aku : “ oke mas…silahkan “ (sambil memberikan senyum termanis yang aku punya,hehe)
Lalu mr.x itu mengangkat kardus dengan gagahnya, kemudian jalan, dan aku jalan di belakangnya dengan hati yang tidak enak, takut merepotkan. Kemudian mr x itu berhenti dan menengok “mbak…” “iya mas kenapa, berat ya…? “ “ bukan-bukan, mbak seharusnya jalan di depan saya, saya kan tidak tahu kosan mbak…” “oh iya ya,heheheeeee “

Sepanjang perjalanan aku senyum-senyum sendiri.  Ini semua karena Allah, ini bentuk pertolongan allah. Karena memang Allah gak akan tega melihat hamba-Nya yang kesusahan toh. Percaya deh.  Lalu aku berfikir,hmmm… besok siapa lagi ya yang tiba-tiba mau nolongin???? Heheheee (ngarep :D